Translate

Senin, 19 November 2012

Bertanya tentang Pendidikan Alternatif???

Rekan saya ketika memberikan informasi seputar buku "SKOLA LIPU, Jalan Menuju Kesetaraan"... saya langsung ingat pengalaman penelitian di Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah, Kalibening di Salatiga (Jawa Tengah) tahun 2006 - 2009. Kegiatan meneliti dibagi beberapa tahap menurut prosesnya yaitu proses menyusun informasi, melakukan penelitian pendahuluan dan penelitian aksi (formal) yang berlangsung tahun 2007. Dalam perjalanannya, saya memperoleh gambaran mendasar terkait peralihan konsep yang digunakan Qaryah Thayyibah yang semula dikenal publik dengan Sekolah Alternatif, kemudian perkembangannya pihak pendiri sekolah sudah akrab dan familiar menggunakan sebutan Komunitas Belajar. Perubahan konsep yang digunakan itu adalah hal yang lain bagi penulis untuk menaruh salah satu amatan penelitian dan termasuk didalamnya unit analisanya, sehingga saya dapat memahami konteks sosial seputar Pendidikan Alternatif! Tapi satu hal yang luar biasa, tak ada yang bisa menyaingi Bapak Bahruddin sebab berhasil membuat Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah dan prestasi yang diperoleh peserta didik tidak diragukan kualitas hasilnya! Meski demikian, Pendidikan Alternatif sepertinya tidak memperoleh tempat khusus dihati masyarakat dan secara umum perhatian dari Pemerintah!

Fenomena "Tangan Bima" dan Pendidikan Alternatif
Saya menamakan perihal perubahan konsep yang digunakan Qaryah Thayyibah dari Sekolah Alternatif ke Komunitas Belajar sebagai gambaran dari Fenomena Tangan Bima. Pasti kita mengetahui fungsi tangan itu sendiri yang secara umum hanya terdiri dari dua hal penting yaitu menaruh dan mengambil. Jadi itulah alasan saya menggunakan konsep "tangan" untuk menyoroti persoalan di dunia Pendidikan Alternatif. Sedangkan Bima, nama itu berasal dari salah satu peserta didik di Qaryah Thayyibah yang memiliki multi talenta. Di lingkungan komunitas belajar itu, Bima sangat dikenal baik. Tapi tiba-tiba setelah beberapa lama waktunya, menempuh pendidikan di Qaryah Thayyibah, Bima pun menghilang! Informasinya, Bima telah menempuh pendidikan di salah satu sekolah formal di Salatiga. Sejumlah data yang saya peroleh juga menunjukkan jumlah siswa yang pindah ke sekolah lain dengan berbagai macam alasan. Dimana penyusutan jumlah siswa kemudian mempengaruhi sikap pihak pendiri Qaryah Thayyibah, kemudian sepakat untuk menggunakan konsep "Komunitas Belajar" dimana hal ini sangat mencolok pada pemanfaatan gedung Resource Center sebagai tempat berkumpulnya individu-individu untuk mempelajari berbagai ilmu yang tidak hanya ilmu pengetahuan dibidang religi atau agama tetapi sangat terbuka dengan ilmu lainnya.

Rata-rata siswa, pindah dari Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah setelah mereka duduk di kelas 2, dan alasan orangtua siswa adalah untuk mempersiapkan mereka bisa masuk ke sekolah formal yang ada Ujian Nasionalnya dan bisa memberikan ijasah. Saya pun bertanya kepada salah seorang responden "loh Bapak dan Ibu kok pindahin anaknya dari Qaryah Thayyibah? Qaryah juga kan sekolah" dan mereka pun menjawab "iya mas, benar sih, tapi kasian anaknya kalau sekolah gak dapat ijasah sebab ijasah itu penting!. Ayahnya tau segala-galanya, mas sendiri kan sudah liat, misalnya bahasa Inggris, Bojoku sangat sosial banget toh ketika ngomong dengan mas., apa yang satu itu, saya kurang tau, katanya bojoku mbah-nya matematika., mas kan sudah liat sendiri pas ngitung-ngitung itu, tapi karna bojoku gak ada ijasah, jadinya ya saya harus terima apa adanya hidup ini. coba kalau bojoku ada ijasah, mungkin dia sudah jadi orang kantoran atau profesor, habis kerjaannya seharian cuma mikir melulu"

Jika memang itu benar-benar dirasakan sebagai suatu bentuk kesadaran, tapi pertanyaan kemudian mengapa orangtua tetap memasukkan anaknya ke sekolah itu sedangkan kenyataannya mereka sudah tahu konsekwensi apa yang akan diterima masa akan datang! 

Masyarakat Cerdas Memilih Strategi Hidup!
Menempuh pendidikan alternatif ada yang gratis dan beberapa biayanya tidak mahal, terbilang sangat murah. Tapi jangan dianggap bahwa biaya yang murah di sekolah alternatif bukan berarti proses pendidikannya diragukan. Silahkan buktikan saja sendiri! Peserta Didik di Komunitas Belajar Qaryah Thayyibah dapat disetarakan dengan Peserta Didik di Sekolah Internasional. Di Qaryah Thayyibah, saya pernah bertemu dengan seorang anak usia 14 tahun yang cakap berpengetahuan tentang Kalkulus juga seorang lagi yang sangat aktif menguasai teknologi informatika (komputer) dan robotika! Murahnya biaya pendidikan (dan ada yang gratis) ini sangat diminati oleh keluarga baik keluarga yang secara ekonomi berada pada lapisan bawah maupun berada pada lapisan atas., di Qaryah Thayyibah saya juga menjumpai beberapa orangtua peserta didik yang sebenarnya itu bukan orang sembarangan, tapi secara ekonomi berada di lapisan atas dengan nilai nominal penghasilan Rp. 50 juta per bulan. Jadi dunia pendidikan alternatif bukan pendidikan yang mudah dipandang sebelah mata (kalau dilihat dari latarbelakang orangtua untuk menghindari kesan atau stigma negatif seputar sekolah gratis atau sekolah murah yang identik dengan kualitas yang serba kekurangan)!

Sikap orangtua dari peserta didik dalam memasukkan anaknya untuk menempuh pendidikan di sekolah alternatif, bermacam-macam :
  1. Alasannya karena sekolah itu murah (atau sekolah itu gratis)
  2. Alasannya karena sekolah itu terampil dalam mendidik anak yang bukan saja semata-mata kecakapan rohani yang dipacu tapi kecakapan intelektual dan kecakapan sosial bisa diperoleh peserta didik
  3. Anak-anak bertambah wawasannya
Dari alasan inilah orangtua dinilai cerdas dalam menentukan pilihan, sedangkan alasan saya mengatakan orangtua cerdas dalam memilih strategi hidup terletak pada poin pertama (alasannya karena sekolah itu murah atau sekolah itu gratis) dimana hal tersebut dilakukan ketika anak sudah lulus Sekolah Dasar dan mereka akan memasukkan anaknya ke Sekolah Alternatif, sambil menunggu anak sudah memiliki kecakapan dengan berbagai alasan yang dipandang benar setiap orangtua, maka mereka kemudian memindahkan anaknya ke sekolah formal. Cukup dilematis yach? Dilematisnya karena sikap itu hanya menempatkan sekolah alternatif sebatas ada kepentingan atau ada orientasi tertentu saja dimana hal ini berarti bahwa adanya orientasi tertentu sebenarnya menggambarkan bahwa masyarakat tidak jujur dalam memperlakukan sekolah alternatif. "Kalau memang menaruh kepercayaan kepada sekolah alternatif sebab kemampuan sekolah dalam mendidik anak Ibu dan Bapak, mengapa kemudian Bapak dan Ibu memindahkan anaknya hanya karena kuatir kelak anaknya tidak memegang ijasah!" Kata saya kepada salah satu responden dimana pernyataan itu muncul untuk memancing sikap yang benar-benar terbuka dari responden, ketika saya selaku peneliti mencoba menguasai dan mempengaruhi emosi responden!

Berkaitan dengan itu, sampai sekarang saya merasa bahwa pendidikan alternatif dinilai dilematis sebab sikap masyarakat sendiri yang "kurang jujur" memperlakukan sekolah alternatif dan kurang didukung oleh jenis pendidikan lainnya (formal) dalam dunia pendidikan. Malahan dapat dikatakan bahwa Pemerintah sendiri kurang responsif dan reflektif untuk memperhatikan atau menempatkan pendidikan alternatif sebagai basis utama memproduksi calon generasi yang cerdas dan sehat secara jasmani serta sehat secara rohani.

Terima kasih, wassalam