Anak Kampus CPC - Support us

Minggu, 18 November 2012

“POLITIK PATENDE dan Pemilihan Pucuk Pimpinan Sinode GKST Periode 2012-2016”

Patende itu disama-artikan dengan kalimat “angka kong banting (dalam dialek masyarakat umumnya di Sulawesi, artinya Angkat Lalu Banting)”, jadi bisa diramalkan maksud dari tulisan ini baik arah dan tekanannya. Kemudian berikutnya, politik, saya tidak perlu lagi menjelaskan makna atau arti politik itu sendiri. Singkat, mungkin kita dapat bersepakat bahwa politik adalah cara mengatur dimana mengatur itu perlu perencanaan, perhitungan dan pendekatan-pendekatan serta parameter atau ukuran dan paradigma atau cara pandang. Disisi lain, saya menautkan dua kata menjadi satu makna yaitu “politik patende.
Saya sebenarnya enggan untuk membicarakan atau mengangkat issue-issue tematis misalnya terkait Proses Penetapan Pucuk Pimpinan Sinode GKST Periode 2012 – 2016 yang sedang (mungkin saja) berjalan. Warga Gereja Kristen Sulawesi Tengah yang tersebar di luar Pulau Jawa dan Pulau Jawa, mereka yang secara genelogis lahir dan mendapat pelayanan dari GKST, berpartisipasi secara penuh serta merefleksikan diri dengan berbagai cara untuk menyambut hari bahagia itu baik persidangan Sinode GKST atau bertepatan dengan Proses Penetapan Pucuk Pimpinan lingkup GKST.
Mmmmmmm….
Beberapa warga juga menginformasikan secara tertulis dan lisan untuk sekian banyak  tentang sikap beberapa tokoh gereja yang menolak untuk dicalonkan menjadi Ketua Umum atau menduduki pucuk pimpinan Sinode GKST periode 2012-2016. Tetapi menariknya disini ialah bahwa sebelum proses penetapan atau pemilihan, sudah terjadi jauh hari negosiasi yang sebenarnya itu lebih identik dalam dunia sosial dan politik (lebih condong ke dunia politik jika itu dilakukan dengan pola dan berbagai bentuk komunikasi, orientasi yang bersifat politis, kontrak-kontrak tertentu yang sudah tentu dilakukan oleh seorang aktor, tawar menawar bargaining politik yang memperkuat suatu kontrak),- persoalannya itu lebih besar jika dikaitkan dengan dunia politik. Maka racun duniawi sudah tentu merasuk dimana gereja dan elit disama-sederajatkan dengan elit-elit atau organisasi politik demikian juga seluruh orientasinya.
Tidak mengherankan apabila beberapa orang telah memberikan warning sosial terlebih dahulu karena adanya pandangan yang sedemikian beralasan dan sedemikian kuat antara lain pandangan analitis praktis dari Dimba Tumimomor (ngkai, dalam dialek masyarakat Poso artinya Opa atau Mbah pada masyarakat Jawa) termasuk saya dan sebagian besar orang lainnya (warga Gereja juga warga Non Gereja yang berasal dari berbagai kelompok agama yang ada).
Kemudian, tidak mengherankan juga apabila sudah ada terlebih dahulu kongko-kongko, pembicaraan seputar kontrak dan pendekatan yang akhirnya sudah menghasilkan dua versi pilihan pucuk pimpinan Sinode GKST periode 2012-2016. Sangat dilematiskah? Sedemikian dilematiskah? Jawabannya YA!
Tokoh-tokoh Gereja dilingkup GKST yang menolak untuk dicalonkan pada pucuk pimpinan tentu memiliki alasan yang besar dan mendasar juga sudah mengenal baik metode politis yang kini marak menjangkiti tradisi gereja dalam pemilihan pucuk pimpinan… Wahhhh dan WOW, juga patut untuk mendorong saya mengatakan “WOW GITU?”
Saya kemudian mengingat dan mencari serta mencoba menayangkan beberapa data penelitian disertasi saya tentang DESA METRO yang secara umum itu sederhana saja hanya menyoroti seputar interaksi semata-mata bahwa 60 tokoh agama mengatakan kepada saya (Adriani Galry Adoniram) “saya tidak mau dipilih karena saya sudah tau saya tidak akan dipilih sebab sudah ada kesepakatan dibelakang layar untuk pemimpin akan datang di Poso. Masyarakat kita (Poso) umumnya begitu juga ini yang saya tau (mungkin pandangan saya apa adanya karena pendidikan saya terbatas) karakter masyarakat Indonesia! Disini banyak yang suka jadi kayu basah!”
Pertanyaan berikut ialah mengapa Pdt. DR. Yuberlian Padele harus diposisikan pada Ketua I untuk versi seleksi yang disebutkan dalam rubrik “Parata Ndaya” milik Dimba Tumimomor yang dkirim oleh seorang member group tersebut, Rohani Rangga, bukankah secara populasi perempuan di GKST jauh lebih banyak? Benarkah gereja masih mempraktekkan status QUO dimana kedudukan laki-laki jauh lebih tinggi pengaruhnya daripada kedudukan perempuan? Apakah sejarah kepemimpinan gereja dilingkungan GKST hanya berhenti sampai kepada Pendeta Agustina Lumentut sebagai tokoh pertama perempuan yang memegang jabatan pimpinan (Ketua Umum Sinode GKST)? Mengapa harus ada suatu kalimat tertentu yang bisa ditafsir dan memunculkan banyak pandangan beralasan bahwa “Pdt. DR. Yuberlian Padele baru pulang studi cukup lama, jadi butuh orientasi” Siapakah yang dibelakang layar mencoba untuk memproduksi kemudian hasil kreasi tersebut menjadi opini atau pandangan banyak orang termasuk informasi yang ditulis oleh Rohani Rangga? (Dalam kasus ini yang menarik bagi saya terletak pada seseorang yang memproduksi wacana tersebut, bagian ini sudah menjadi baku dalam pendekatan strategis dari politik wacana., sehingga hasilnya ialah pembentukan opini public terkait aktor yang dicalonkan. Dampaknya adalah posisi politik melemah”
Prinsip saya, siapa saja saya support untuk menduduki pucuk pimpinan sinode GKST tetapi prosesnya jangan dicampur-adukan seperti orang membuat kue atau bangunan! Semakin banyak campuran akan sulit untuk membongkar, bangunan yang kokoh belum tentu bangunan yang baik sebab kekokohan cenderung bagian dari suatu sikap yang sukar menerima kritikan, egois, sangat primordial, mungkin saja barbarian atau sangat agresif. Bangunan yang bagus adalah bangunan yang standar-standar saja dan mudah untuk direnovasi. Sementara dalam kasus pembuatan kue, jika kue itu terlalu banyak campurannya maka kue akan terasa hambar, tidak enak untuk dimakan bahkan tidak enak untuk dilihat.