Anak Kampus CPC - Support us

Minggu, 06 April 2014

KEMATANGAN DAN KEDEWASAAN BERPOLITIK DIPERLUKAN SEBAGAI REFERENSI UNTUK PEMILIH



9 April 2014 mendatang, semua rakyat akan memilih individu dari suatu partai politik dan seluruhnya tentu saja memiliki sejumlah prestasi dan karya yang baik, sehingga wajar partai politik mencalonkan mereka untuk dipilih masyarakat. Para calon legislatif (kemudian disebut caleg) bertugas antara lain merancang atau menyetujui atau membentuk Undang-undang dan tentu saja bertugas untuk mengawal perjalanan bangsa dari negara kita tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Antara Kenyataan dan Idealisme Perjuangan: Menuju Bangsa Yang Satu?
Tapi benarkah kita sendiri menjadi satu bangsa? Saya sendiri menganggap itu sukar dilakukan, meski benar beberapa momen bisa menjadikan kita satu tetapi pada momen lain membuat kita dapat dipecahkan menjadi beberapa bagian dari yang terkecil sampai yang terbesar.

“Pemikir handal” tentu menguasai keberagaman kita sendiri, sehingga sang “pemikir” mudah untuk memecahkan itu. Disisi lain demografi politik juga menjadi salah satu penentu kekuatan politik dan ironisnya jika ini dilakukan untuk gerakan demokrasi dengan memperkuat posisi tawar politik maka tentu realitanya adalah menabrak tembok yang besar. Jadi harus ada alternatif dan langkah strategis, setidaknya masih pada jalur dan tujuan yang sama yaitu mengutamakan persatuan serta kesatuan sebagai bangsa yang utuh.

Usaha-usaha yang dilakukan tidak bisa secara frontal, anarkis, dengki, iri dan marah tetapi harus dilakukan dengan terarah, beretika, profesional, jujur dan konsisten. Ini saja yang harus dilakukan. Jika seluruhnya didorong dengan sikap-sikap anarkis, dengki, iri dan marah, maka sudah pasti tidak akan membawa simpati kepada masyarakat. Jadi mengutarakannya juga harus baik dan jangan terkesan seperti ingin mencari tau sesuatu agar bisa memperoleh celah bagi seseorang untuk digunakan menjatuhkan atau melakukan penyerangan tertentu. Hal ini tidak perlu dilakukan. Kalau pun kita memaksa untuk melakukannya, yang jadi pertanyaan ialah apakah benar orang yang diperjuangkan tersebut akan membela atau menolong kita? Jika pun ya, hanya sebagian tokoh saja yang benar-benar membela secara langsung (fisik) atau benar-benar menolong secara langsung (fisik) dengan mengorbankan apa yang ada padanya.

Jika pun masyarakat sudah menemukan tokoh yang membela atau menolong secara langsung, sangat sukar dijamin bahwa ia  akan aman dalam perjalanannya, pasti tokoh tersebut mengalami berbagai rintangan dan godaan, tak terkecuali istilah populer black campaign. Satu-satunya menghindari ya jangan masuk di politik! Saya rasa semua tokoh politik mengalami itu!

Dominasi dan Perebutan Simpati Masyarakat
Persaingan politik tidak lagi dibangun untuk tujuan mensejaterakan tetapi lebih kepada upaya mendominasi dan merebut simpati masyarakat, meski kegiatan politik seperti kampanye benar merupakan usaha dari perebutan simpati masyarakat tetapi bukan berarti menjadikan segala sesuatu sebagai usaha untuk merebut kedudukan atau otoritas kewenangan tertinggi sehingga bisa mempengaruhi kebijakan dan tentu saja akan memperkuat basis kelompoknya. Cara-cara ini hanya akan menghasilkan gerakan balas dendam terhadap rejim ke rejim. Dengan demikian, para pemimpin dari kalangan elit politik mengajarkan kepada masyarakatnya pentingnya balas dendam dan secara tidak langsung mendorong pertumbuhan anarkisme serta kekerasan structural, melembagakan tradisi premanisme dan pemberlakuan prinsip-prinsip pembenaran.
Hemat saya, pilihlah partai politik dan tokoh politik Anda yang benar-benar dewasa serta matang dalam berpolitik dengan tidak lagi menggunakan kekuatan sendiri tetapi mampu memainkan kelemahannya menjadi kekuatannya sendiri serta mampu mengambil sari dari kekuatan lawan tanpa harus merusak lawan tersebut. Makna kematangan dan kedewasaan disini ialah jika seluruh proses sejak awal dan perkembangannya, benar-benar seluruh hal yang dilaluinya (partai atau tokoh politik) secara mandiri. Meski pun disadari bahwa hal yang dilaluinya itu banyak dijumpai kekurangan, tetapi setidaknya dari kekurangan itu ia bisa menyempurnakan. Inilah yang saya maksud sebagai SUARA RAKYAT.