Anak Kampus CPC - Support us

Sabtu, 02 Maret 2024

Jokowi Effect All in #jokowi

 

Istilah Jokowi Effect, saya perkenalkan ke publik berkaitan dengan beberapa konten terkait pemilu 2024 dan sebelum Pemilu 2024, atau jauh sebelum diputuskannya Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden (kemudian disingkat Paslon untuk seterusnya) Republik Indonesia. Waktu itu, saya memperhatikan beberapa kasus amatan berupa sikap politis yang muncul dipermukaan masyarakat, dimana sebagian sikap politis itu dinilai sebagai reaksi atas populeritasan Joko Widodo (seterusnya disebut Jokowi). Ini tak dapat dipungkiri sosok Jokowi yang mengubah pentas perpolitikan! Jokowi mampu mengubah komunikasi politik menjadi komunikasi sosial, sehingga Jokowi begitu terlembagakan dalam masyarakat, baik di kota maupun di desa, baik di pelosok atau di pusat wilayah. Saya pikir ini dasar dari sikap-sikap yang sebenanrya mengakui secara tidak langsung reputasi seorang Jokowi dan ditanggap secara politis. Saya melihat sosok Jokowi, memang dibangun di tengah-tengah masyarakat dan sejak Beliau melangkah ke kursi RI 01 (Presiden Republik Indonesia), setiap individu termotivasi untuk merintis usaha ke arah sana. Jokowi mendorong munculnya keberanian individu untuk bermimpi dan terus membangun mimpinya. Jokowi memberikan angin segar, bukan hanya orang di kota saja yang bisa menjadi Presiden, tapi orang dari kampung bisa menjadi Presiden.

Dari Beliau, memiliki arah untuk membangun kepercayaan diri dan kepercayaan publik serta mengubah pentas perpolitikan, dan wajah perpolitikan.

Kamis, 07 September 2023

PENGARUH PANDEMI COVID-19 TERHADAP PENINGKATAN KEMISKINAN SERTA KESENJANGAN SOSIAL DI SEKTOR PERDAGANGAN DAN JASA DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PERTUMBUHAN ANOMIE DI INDONESIA

 

Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak negatif yang signifikan terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. Sektor perdagangan dan jasa merupakan salah satu sektor yang paling terdampak oleh pandemi COVID-19. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain pembatasan mobilitas, penutupan tempat-tempat umum, serta penurunan permintaan terhadap barang dan jasa. Indonesia, memberlakukan lockdown terdesentralisasi dan bertahap, serta tidak pernah mencapai tingkat ketat seperti negara lain.[1]) Langkah-langkah pemerintah dalam menerapkan lockdown diserahkan melalui propinsi dan kabupaten, kemudian beberapa propinsi memberlakukan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai bentuk respon persoalan pandemik COVID-19 yang berimbas pada kehidupan sosial dan ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya di Indonesia. Pemberlakukan PSBB disusul dengan penutupan tempat-tempat umum yang dilakukan pemerintah Indonesia seperti pusat perbelanjaan, restoran dan tempat hiburan.

Lebih lanjut, pandemi COVID-19 juga berpengaruh pada daya beli konsumen yang mengalami penurunan akibat banyak warga kehilangan pekerjaan, berkurangnya jam kerja dan perubahan perilaku konsumen. Penurunan daya beli konsumen berdampak negatif terhadap sektor perdagangan dan jasa. Sektor perdagangan dan jasa merupakan salah satu sektor yang paling terpukul oleh dampak pandemi ini, karena mengalami gangguan pada rantai pasok, permintaan, biaya logistik, dan kerjasama internasional. Sektor ini juga berpengaruh pada kesejahteraan masyarakat, karena merupakan sumber pendapatan dan lapangan kerja bagi banyak orang.

Disisi lain, pandemi COVID-19 dipandang sebagai momentum untuk melakukan diversifikasi produk ekspor dan impor misalnya memanfaatkan potensi pasar baru atau alternatif, momentum untuk mempercepat transformasi digital di sektor perdagangan dan jasa seperti pengembangan e-commerce, fintech, logistik online. Dilain sisi, Indonesia harus mengalami banyak persoalan bersumber dari tingkat keragaman sosial yang tinggi dari jumlah penduduk 270 juta jiwa, tingkat konsumsi dan ketergantungan yang tinggi untuk beberapa komoditas strategis seperti bahan bakar minyak, bahan baku industri, bahan baku pangan, dan alat-alat kesehatan, struktur ekspor yang rapuh karena masih didominasi oleh komoditas primer yang rentan terhadap fluktuasi harga dan permintaan global, tingkat biaya logistik yang tinggi akibat infrastruktur transportasi yang belum memadai, regulasi yang berbelit-belit, praktik monopoli dan oligopoli di beberapa sektor, daya saing yang rendah akibat rendahnya produktivitas, inovasi, kualitas produk, dan standar mutu.

Dari banyak problematika yang muncul sebagai dampak pandemi COVID-19 pada peningkatan kemiskinan dan kesenjangan sosial di sektor perdagangan dan jasa, tidak disadari bahwa hal tersebut juga berimplikasi pada pertumbuhan tingkat anomie di Indonesia. Melalui artikel ilmiah ini yang disusun dengan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur bersumber dari data-data yang relevan dan terpercaya seperti media pemberitaan, laporan resmi, buku dan lainnya, bertujuan untuk memahami peningkatan kemiskinan dan kesenjangan sosial di sektor perdagangan dan jasa dalam hubungannya dengan pertumbuhan anomie di Indonesia.

selengkapnya, Klik disini

Jumat, 20 Agustus 2021

ENDEMIK GLOBAL DAN YOUTUBE : RILIS PROFESI DIGITAL

Pernah seorang mahasiswa bertanya kepada saya "Bapak, youtubers?", kemudian saya menjawab "sebenarnya saya menolak dikatakan sebagai YouTubers karena ada beberapa alasan. Pertama, menjadi Youtubers saat ini harus memenuhi ketentuan komunitas youtube atau disebut komunitas kreator yaitu minimal memiliki 1.000 subscriber dan mengantongi 4.000 jam dalam setahun. Kedua, karena alasan pengalaman pribadi, sejak tahun 2000 saya sudah menjalani aktifitas di dunia internet marketing, banyak link yang saya pasarkan atau disebut sebagai afiliator. Atas dasar itu, saya lebih setuju dengan sebutan Konten Kreator, jadi saya bukan seorang YouTubers tapi Konten Kreator dan YouTube merupakan salah satu media yang saya gunakan!"

Dari pengalaman ini, sebenarnya ingin saya sampaikan kepada mahasiswa tadi atau ditujukkan untuk umum, bahwa teknologi itu sangat penting bagi kita, terutama jika kita bisa mengarahkan teknologi tersebut untuk menguntungkan diri kita, dan tetap memprioritaskan HALAL! Misalnya teknologi internet seperti youtube! Sekitar tahun 2007, saya masuk didunia youtube dan ini berbeda dari tahun-tahun sesudah itu. Youtube semakin sulit untuk bisa dicicipi keuntungan, karena jumlah konten kreator juga terus bertumbuh dan ini mungkin salah satu penyebab dibangunnya berbagai peraturan atau ketentuan oleh komunitas kreator, YouTube.

Nah, memasuki situasi dan kondisi saat ini, ketika semua kita menghadapi dan hidup di masa-masa sulit sekarang ini, pandemik global, kita harus lebih jeli dan cermat melihat banyak peluang dari teknologi internet misalnya menjadi konten kreator atau secara khusus membuka channel youtube dan mengisi banyak konten disana. Tapi pasti, tidak semua orang suka atau nyaman di muka kamera! Walaupun belum terlambat untuk mencoba berbagai peluang di youtube, kita bisa merilis banyak konten untuk channel kita sendiri. Isinya bisa apa saja dan dengan catatan harus sesuai dengan pedoman komunitas kreator dari youtube!

Sebagai Konten Kreator, ini akan banyak menolong kita, baik dijadikan sebagai pekerjaan sampingan atau jika ada yang berencana menjadikan ini sebagai pekerjaan tetap. Kalau saya, menjadikan profesi konten kreator sebagai pekerjaan sampingan, untuk saat ini!

Pertanyaan selanjutnya mengapa itu perlu menjadi konten kreator? Umumnya saya berpikir bahwa situasi dan kondisi saat ini sepertinya sulit untuk menghilangkan virus itu dimuka bumi, dan ini sudah menjadi pandemik global serta masalah-masalah penanganan yang sepertinya sulit untuk menghilangkan virus tersebut, maka secara otomatis ini akan menjadi Endemik Global. 

Pertanyaan berikutnya ialah apa yang kita rencanakan jika ini menjadi Endemik Global? Konten kreator merupakan salah satu solusi bagi kita untuk meraih banyak peluang sebagai konten kreator. Mungkin seperti itu saja yang bisa saya uraikan. Jangan lupa kunjungi channel youtube Anak Kampus CPC disini 

Sabtu, 14 Agustus 2021

Merdeka di Tengah Masa Kritis

Sebentar lagi Indonesia akan memperingati Kemerdekaannya pada 17 Agustus mendatang! Dan tahun ini, tahun 2021, Indonesia merupakan salah satu negara yang mengalami masa-masa sulit akibat pandemik yang terjadi secara global atau kemudian disebut Pandemik Global. Setiap Negara termasuk Indonesia, bekerja keras untuk bisa melepas diri dari ancaman dan bahaya pandemik global, korona, dan hingga usia korona di Indonesia saat ini sudah masuk 2 (dua) tahun.

Memasuki 17 Agustus 2021 yang akan diperingati pada hari Selasa.,pemerintah Indonesia memberlakukan pembatasan sosial atau membatasi mobilitas warga negaranya yang tersebar di wilayah masing-masing. Istilah saat ini dipakai ialah PPKM.

Klik tautan berikut ini untuk melihat serba-serbi PPKM atau hal terkait PPKM di Kabupaten Poso

Album Sogili Drone

Lainnya

 


Senin, 05 Agustus 2019

KABINET INDONESIA BERSATU JOKOWI - MA'ARUF DAN MASALAH TERBERAT

Beberapa media memberitakan susunan Kabinet Jokowi yang ramai dibicarakan, mulai susunan Kabinet Jokowi versi survey hingga susunan Kabinet Jokowi versi catatan rapat TKN. Menurut Pengamat Sosial, terlepas benar tidaknya informasi tersebut, pemberitaan mengenai Kabinet Jokowi yang beredar banyak itu menggambarkan beberapa hal penting yaitu :
Pertama., Jokowi - Ma'aruf sebagai figur utama begitu dominan mewarnai pemberitaan sosial politik di Tanah Air sehingga setiap kelompok, dan bahkan personal menaruh harapan kepada Jokowi. Agar dapat diberikan kesempatan yang bergabung pada Kabinet. Kedua., susunan Kabinet Jokowi untuk versi survey yang beredar ramai kemudian menjadi sorotan Netizen dan publik ialah Sandiaga Uno dan Agus Harimurti Yudhoyono, mengisyaratkan bahwa ada gagasan untuk menyudahi ketegangan masa PILPRES 2019 lalu. Pesan yang ingin ditonjolkan ialah kebersamaan membangun.

Selain itu, pernyataan Jokowi terkait keinginannya kepada kaum muda untuk bergabung di Kabinetnya, memberi sinyal bahwa Jokowi - Ma'aruf memiliki harapan untuk membangun KABINET INDONESIA BERSATU. Nah., bagian terakhir ini akan mewarnai perjalanan perpolitikan di Indonesia dan harapannya ke depan bahwa Indonesia semakin dewasa.

"Kabinet Indonesia Bersatu" sebagai gagasan berupa nama yang Pengamat Sosial tawarkan kepada Jokowi - Ma'aruf memiliki filosofi besar dan mengakar. Pengamat Sosial memiliki harapan bahwa Indonesia dalam perkembangannya menemukan sendiri kedewasaan, dan kedewasaan yang terbentuk bukan kedewasaan yang dibuat-buat melainkan kedewasaan dari berbagai perjalanan berdemokrasi msaa ke masa.

"Kabinet Indonesia Bersatu" diharapkan dapat mempercepat penyelesaian beragam masalah, misalnya kemiskinan dan kesejahteraan, Ini memerlukan penanganan serius, agar masyarakat dapat terjamin kehidupannya. Selain itu, masalah politik identitas akhir-akhir ini begitu menggelisahkan. "Kita perlu orang-orang yang dapat menengahi berbagai kelompok, jadi bukan hanya orang-orang yang cepat dan tepat serta tegas menyelesaikan masalah melainkan individu yang dapat menengahi banyak kelompok" Kata DR. Adriani G. A. Tobondo, Pengamat Sosial dan Pendiri Komunitas CreativePotato kepada Pengamat Sosial.

Senin, 29 April 2019

Melebur Diri Menjadi Komunitas

Beberapa waktu ini, saya kembali beraktifitas di youtube. Aktifitas tersebut sempat tertunda sekian tahun lamanya. Bukan tanpa alasan, aktifitas di dunia maya terhenti sebab saya harus bekerja setelah menyelesaikan ijin belajar. Saya adalah dosen di Perguruan Tinggi Swasta, Universitas Kristen Tentena sejak tahun 2007 hingga sekarang. Sejak menyelesaikan pendidikan S3 Doktor Studi Pembangunan, saya kembali aktif bekerja.

Tahun 2015 - 2017, saya menjabat sebagai Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat - UNKRIT. Kemudian dipercayakan menjabat sebagai Pembantu Rektor (PUREK) I Bidang Akademik dan Kemahasiswaan - UNKRIT. Ketika tulisan ini dibuat dan diposting, saya masih menjabat sebagai PUREK I UNKRIT.

Sejak Tahun 2007 saya menghadapi masalah yang begitu kompleks atau banyak dinamika, baik sebagai dosen atau sebagai warga masyarakat. Situasi dan kondisi yang saya alami secara langsung terhitung setelah menyelesaikan pendidikan S1 merupakan gambaran konkret terkait perilaku-perilaku sosial yang rumit serta kompleks. Seringkali harus berhadapan dengan berbagai situasi yang rumit dan situasi tersebut mungkin tidak dirasakan orang lain, dan hanya kami saja yang merasakannya. Sebab itu, saya nilai bahwa situasi dan kondisi tersebut merupakan kekhususan bagi saya secara personal. Ada banyak hal yang tidak hanya saya secara personal mengalaminya, tetapi beberapa orang juga mengalami hal yang sama. Nah, bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi?

Sebelumnya, terlintas beberapa langkah-langkah yang pernah saya ambil dan hal itu dapat dikatakan berhasil. Kembali ke dunia sebelum saya mengenal situasi dan kondisi rumit!

Saya pun mengenang kembali pengalaman semasa mahasiswa, rutinitas yang sering kami lakukan seperti membuat komunitas dan tentu saja browsing atau berkaitan dengan internet marketing. Ada harapan besar bahwa dunia semula kami dapat diwujud-nyatakan sehingga berguna bagi orang lain!

Singkat ceritanya, saya berhasil mengajak beberapa orang untuk mendirikan komunitas yang dinamakan CREATIVEPOTATO. Komunitas ini tidak berbadan hukum, didirikan berdasarkan kesepakatan satu sama lain antar internal kami. Kebahagiaan yang teramat besar, Prof. Teguh Prasetyo, salah seorang komisioner di Dewan Kehormatan Penyelenggaraan Pemilu Republik Indonesia (DKPP - RI) bersedia menjadi Penasehat Komunitas CreativePotato.

Dalam perkembangannya, kami pun mendirikan unit minat CreativePotato dinamakan CreativePotato Publisher dan telah menghasilkan 2 (dua) produk yaitu terbitan Jurnal Dosen. Setelah itu, kami pun mengembangkan sayap kembali, merambat ke dunia virtual, youtube. Sehubungan kegiatan kami di youtube, kami mendirikan channel perdana dinamakan Anak Kampus CPC dan telah mempersiapkan channel keduanya. Kegiatan ini dibawah unit minat CreativePotato Channel.

Sekiranya rekan-rekan dapat membantu pengembangan channel tersebut!

Ini yang dapat kami lakukan, hal-hal yang terbaik untuk menjadi komunitas.,


Sabtu, 21 Mei 2016

ANCAMAN BAGI ANAK

DSC_2919_20160521204112509.jpgTeringat nasihat dari Orangtua, ketika usia SAYA masih 13 tahun. Ayah berkata "Nak, kalau Papa dan Mama bisanya naik sepeda, kau diharapkan bisa naik motor, karena itu kau harus serius sekolah!..."

Tahun ke tahun, saya akhirnya menyadari jika pesan itu mengartikan kalau anak adalah investasi masa depan. Orangtua wajib memberikan jaminan kepada anak-anaknya, sehingga kelak dapat meraih masa depan. Jaminan itu bukan hanya materi, tapi perhatian dan pendampingan penuh kepada anaknya. Kita sudah memilih keputusan untuk menjadi Orangtua, maka kita harus konsisten dengan keputusan itu, terutama ketika diberikan karunia dari Tuhan yaitu anak, maka anak harus diperhatikan kehidupannya.

Sebaliknya, akibat dari gerak perkembangan zaman yang mempengaruhi gaya hidup masa kini, banyak terjadi kasus-kasus hubungan seks usia dini dan hamil diluar nikah yang disusul dengan sikap tidak bertanggung jawab. Sepasang kekasih, salah satunya hamil kemudian melahirkan, tanpa pikir panjang membuang anaknya sendiri. Ada diselokan, ada yang ditemukan pada pipa pembuangan WC, ada yang ditemukan warga di kebun-kebun dan sebagainya. Tidak hanya sampai disini saja, bahwa bayi yang baru dilahirkan seorang Ibu kemudian dijual kepada orang lain, bahkan dipersiapkan sebagai calon Pekerja Seks Komersial.

Menanggapi hal ini, bahwa sangat disayangkan sikap dari Orangtua itu atas apa yang dilakukan terhadap anak kandungnya sendiri. Sungguh ironis!

Perkembangan zaman dan kepadatan penduduk juga mengakibatkan pengaruh yang besar terhadap anak-anak., terkesan bahwa hak anak-anak mulai digeser. Sekarang ini sukar menemukan tempat bermain anak yang luas dan besar, mereka terhimpit pada pertumbuhan gedung-gedung bertingkat dan daya gantung atas penggunaan serta pengelolahan tanah. 

Dulu mereka mudah mencari tempat bermain, sekarang anak-anak sulit untuk mencari tempat bermain. Jika pun mereka sudah memperoleh tempat bermain, masih saja mereka tidak nyaman untuk bermain karena berbagai bahaya yang rentan terhadap mereka. Ancaman dan aksi teroris juga berdampak pada kenyamanan anak!
Ini masalah serius yang harus diperhatikan, sebab anak adalah masa depan bersama dan masa depan Negara! Jadi patut untuk diperhatikan!

Rabu, 04 Mei 2016

Profil Masalah Tentara dan Polisi di Indonesia

Beberapa tahun lalu, saya dimintai pendapat dari Koran Republik (online) sehubungan konflik TNI-POLRI. Dalam wawancara, saya mengemukakan bahwa konflik antara TNI-POLRI (baca: Tentara Indonesia dan Polisi Indonesia) adalah contoh yang buruk bagi masyarakat Indonesia. Sepertinya masalah (konflik) TNI - POLRI, tak kunjung berhenti dan berlanjut pada masa sekarang. "...silahkan browsing di internet untuk pastikan kebenaran dari pendapat saya, setiap website kita mudah jumpai kasus pertikaian antara TNI dan POLRI" jawab saya kepada mahasiswa (24 April 2016).

Kasus ini saya katakan kepada reporter Republik "contoh yang sangat buruk untuk masyarakat".

Pertikaian antar personil Tentara dan personil Polisi di Indonesia, sudah berlangsung sejak saya kanak-kanak. Ini maksudnya apa? Kok tidak pernah selesai perkaranya? Itu kejadian tahun 1980an, sekarang ini sudah tahun 2016 dan atas dasar itu, saya menilai ada sesuatu yang kurang diperhatikan sehubungan dengan kehidupan sosial Ketentaraan dan Kepolisian di Indonesia. Hal yang kurang diperhatikan itu, pikir saya merupakan penyebab ketegangan baik ketegangan dalam kehidupan Tentara dan ketegangan dalam kehidupan Polisi.

Negara harus lebih fokus memberikan stimulus-stimulus tertentu untuk para "Pelindung Negara", Tentara dan Polisi tidak hanya diberikan instruksi khusus yang sifatnya itu "keras", sekali-kali mereka (Tentara dan Polisi) diberikan ruang dan dijamin Negara untuk mengaktualisasikan dirinya masing-masing, sehingga mereka bisa rileks. Pekerjaan Tentara dan pekerjaan Polisi, bukan pekerjaan yang ringan tetapi pekerjaan yang berat. Dan saya pikir itu yang membentuk perilaku mereka terutama ketika berelasi dengan individu lain dari korps yang berbeda. Situasi tertentu misalnya ketika mereka (Tentara atau Polisi), tidak bertugas atau sedang tidak menangani kasus tertentu, mereka dipastikan menjadi cepat jenuh dan situasi ini dinilai kurang baik karena pasti dapat memancing situasi lain yang kurang enak dilihat publik Indonesia.

Apa yang dialami itu, harusnya situasi tersebut diperhatikan dengan cepat dan sigap. Diperlukan program dan kegiatan yang pas untuk Tentara dan Polisi yang arahnya itu dapat menjalin hubungan harmonis, menjalin keakraban antar korps, melepas sementara ketegangan masing-masing korps. Apakah Negara menyadari itu? Saya pikir ya!

ABRI/ POLRI
Dinamika konflik Tentara dan Polisi dari tahun ke tahun berbeda, terutama ketika mencermati hubungan Tentara dan Polisi yang masih satu atap di ABRI (Angkatan Bersenjata Republik Indonesia). Sekarang ABRI berdiri sendiri dengan elemennya yaitu Tentara Nasional Indonesia (TNI), sedangkan Polisi menjadi otonom kemudian tergabung pada korps mereka, POLRI (Kepolisian Republik Indonesia).

Dari patokan tersebut, saya kemudian melihat kembali hubungan Tentara dengan Polisi bahwa setelah setiap elemen berdiri sendiri-sendiri dengan kewenangannya yang bersifat otonom, maka muncul dipermukaan kasus-kasus ketegangan antara Tentara dan Polisi semakin banyak, dan situasi ini berbeda ketika masih satu atap di ABRI.

Saya menilai bahwa pemisahan tersebut kurang baik, selain menyebabkan munculnya ketegangan-ketegangan yang disinyalir berasal atau bermula dari pemisahan ABRI dan POLRI, pemisahan tersebut berpengaruh pada efesiensi keuangan Negara.

Belanja Negara menjadi berat karena harus membiayai 2 (Dua) korps. Dilihat dari kualitas pertahanan dan keamanan Negara, maka sudah pasti akan berpengaruh pada kualitas yang dimaksudkan. Jika ABRI/POLRI menjadi satu, sudah dipastikan bahwa Kepolisian pasti memiliki keahlian tempur dan sebaliknya Tentara dapat memiliki keahlian Polisi. Kita akan memperoleh double power untuk pertahanan dan keamanan Negara.

RADIKALISME, POLISI DAN TENTARA
Radikalisme dalam perjalanan dinamika sejarah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), bermula saat Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII) melakukan gerakan-gerakan terencana dan sistematis. Tokoh utama DI/TII adalah Abdul Kahar Muzakar yang bertujuan untuk mendirikan atau membentuk Negara Islam Indonesia (NII). Muzakar adalah anggota TNI (Tentara), berpangkat Letnan Kolonel atau Overste.

Dari era DI/TII, radikalisme bertumbuh seperti jamur terutama menjelang detik-detik jatuhnya Orde Baru Soeharto. NKRI dinilai kecolongan karena saat itu kosentrasi Tentara dan Polisi lebih kepada menstabilkan kondisi Indonesia yang sedang rusuh, atau dikenal dengan Kerusuhan 1998.

Terganggunya stabilitas NKRI juga mengakibatkan kurang dikendalikan dengan baik situasi daerah-daerah administrasi NKRI misalnya konflik Poso 1998.

Konflik tersebut merupakan satu-satunya konflik terparah dan terpanjang, bahkan situasi tahun 2016 masyarakat Poso belum mendapat jaminan keamanan dan rasa nyaman untuk beraktifitas. Dari rentetan itu, Indonesia mengalami masalah pembangunan yaitu Radikalisme. Sementara disisi lain, Tentara dan Polisi diperhadapkan dengan persoalan geografi (khusus masalah Santoso Terorisme di Poso) yang secara umum wilayah Indonesia sebagian besar terdiri dari hutan-hutan lebat, pegunungan dan bukit serta jurang yang tajam, itu memberatkan Tentara dan Polisi melakukan pengejaran terhadap kelompok terorisme yang bersembunyi atau bergerilya di hutan-hutan misalnya pemburuan Santoso Terorisme Poso.

Lain sisinya, Tentara dan Polisi kurang dibekali dengan teknologi militer yang baik. Jika pun ada, teknologinya terbatas dan mahal. Perlu pendekatan kreatif untuk menghasilkan pendapatan yang menjamin aktifitas pengadaan teknologi perang atau teknologi militer. Ditambah lagi situasi sekarang bahwa Tentara dan Polisi, tidak lagi satu atap. Itu sangat memberatkan. (drtobondo)

Memburu Terorisme Poso Santoso

Tulisan berikut fokusnya pada Santoso, Terorisme Poso merupakan rintisan tulisan "Santoso: Aktor Papan Atas" yang dimuat pada blog ini.

Dari berita Kompas tentang Santoso, dikemukakan bahwa masa perburuan Santoso diperpanjang 2 (Dua) bulan ke depan. Episode perburuan tersebut masih sama dengan episode sebelumnya, TNI bersama-sama POLRI memburu Santoso. DETIK juga mengulas berita Santoso, dikemukakan bahwa telah ditangkap 2 (Dua) warga Riau yang akan bergabung (berencana) dengan kelompok Santoso. Usaha tersebut digagalkan oleh Djati.

Kasus kedua, penangkapan Ovan dan Dede warga Riau, menjelaskan bahwa Santoso memiliki pengaruh besar dalam mengajak orang bergabung. Ini berarti bahwa ada kelompok lain diluar dari kelompok Santoso yang sedang diburu TNI/POLRI. Kelompok tersebut umumnya berperan dalam merekrut dan usaha itu dilakukan dengan cara memberikan informasi (iklan) dari mulut ke mulut atau cara yang lebih moderen menggunakan media sosial seperti facebook dan twitter atau sejenisnya.

Pikir saya, selain hal yang tampak dari kasus kedua, maka sudah sangat jelas bahwa Poso dipilih sebagai basis dari pergerakan radikalisme agama. Lahannya sangat subur (wilayah Poso) disana untuk bisnis seperti terorisme.

Pandangan ini sudah saya kemukakan sejak lama, sekitar tahun 2008, bahwa Poso adalah wilayah uji coba kekuatan tertentu dimana kekuatan tersebut adalah kekuatan radikal. Sementara peristiwa ini dinilai saya sebagai bentuk pencemaran atas kewibawaan TNI/ POLRI sekaligus kewibawaan Negara. TNI/ POLRI atau Negara menghadapi tantangan dan cobaan yang besar, kewibawaan mereka (TNI, POLRI atau Negara) sedang diinjak oleh kelompok radikalisme agama.

Kelompok peneror menginginkan Negara lemah dan mengikuti kemauan mereka (Teroris).

Kembali pada kasus kedua dan sepak terjang Santoso, bahwa tidak menutup kemungkinan Santoso atau kelompok teroris lainnya yang ada di Poso keberadaan mereka (Santoso atau kelompok teror lainnya) dimungkinkan tetap ada, karena mungkin saja masyarakat mendukung baik disebabkan sikap berpihak atau terpaksa mendukung sebab takut menerima perlakuan tertentu yang tidak diinginkan, misalnya aksi pemenggalan kepala yang dilakukan oleh teroris Indonesia.

Sehubungan itu, harapannya Tentara dan Polisi atau dalam hal ini Negara dapat memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat, bukan hanya mengupayakan keberhasilan misi perburuan Santoso. (drtobondo)

Bijak Memilih Perguruan Tinggi

Tidak terasa bagi siswa kelas 3 SMA/SMK sebentar lagi berpindah studinya di Perguruan Tinggi, ada yang memilih masuk Perguruan Tinggi Negeri dengan mengikuti SNMPTN, ada juga masuk Perguruan Tinggi Swasta, dan sebagian memilih tidak melanjutkan pendidikannya di Perguruan Tinggi. Dalam hal ini, perlu diketahui kiat-kiat memilih Perguruan Tinggi, sebagai berikut :

Sumber Daya Manusia
SDM menjadi dasar bagi individu untuk menentukan pilihannya. Sesuai aturan DIKTI bahwa dosen minimal harus pendidikannya S2 (Magister/ Master). Jika ada 10 fakultas dan 8 fakultas pendidikan dosen umumnya S2, 2 fakultas dosennya S3 maka pilihan baiknya dijatuhkan pada fakultas yang memiliki dosen pendidikan S3 (Doktor). Ini akan berpengaruh besar terhadap kredibilitas fakultas, terutama materi atau pengetahuan yang akan diterima individu bersangkutan ketika menempuh pendidikan S1 di suatu Perguruan Tinggi.

Hindari Fakultas/ Universitas yang banyak "Pungutan Tambahan" atau "Pungutan Liar"
Kalau saya calon mahasiswa S1, saya akan memeriksa atau mengecheck informasi terkait Perguruan Tinggi termasuk di dalamnya Fakultas-fakultas. Jika seandainya diperoleh informasi bahwa di Perguruan Tinggi tersebut banyak kali menarik pungutan tertentu (pungutan tambahan) yang dinilai kurang masuk akal, maka baiknya itu jadi bahan pertimbangan. Individu segera mengecheck fakultas-fakultas yang ada di Perguruan Tinggi tersebut, apa fakultasnya juga? Jika hanya ada 3 fakultas yang tidak menarik "pungutan tambahan" atau "pungutan liar", maka pilihan jatuh diantara 3 fakultas meski pun Perguruan Tingginya (mungkin tingkat Rektoratnya) banyak menarik "pungutan tambahan" atau "pengutan liar", itu dapat diantisipasi karena masih ada 3 fakultas yang dapat dikatakan jujur. Opsi lain, jangan memutuskan untuk kuliah di Universitas tersebut.

Memilih Fakultas Sesuai Kebutuhan Pasar
Supaya jangan rugi buang uang percuma untuk meraih gelar sarjana, penting bagi kita memilih fakultas sesuai kebutuhan pasar misalnya Geografi dan Bahasa Indonesia. Dua bidang studi ini sangat langka dan pasti ketika kita lulus dari salah satu bidang studi tersebut, sudah dipastikan akan mudah dapat kerja. Jadi uang tidak terbuang begitu saja.

Memilih Fakultas Sesuai Minat
Banyak rekan saya akhirnya kuliah tidak diminati karena fakultas yang dimasukinya bukan pilihan sendiri, alias pilihan orangtua. Jika kita minat pada seni, maka baiknya kita mencari bidang studi seni, bukannya masuk Bahasa Inggris. Itu kesalahan yang besar. Kasus lain biasanya kita memilih fakultas tertentu karena ikut-ikutan rame, artinya bahwa fakultas tersebut memang lagi trend dikalangan muda. Fakultas yang lagi naik daun, belum tentu menjamin masa depan bagi seseorang. Ini harus dihindari!

Memilih Berdasarkan Manfaat Yang Sama
Perguruan Tinggi baik swasta dan negeri, tidak dibedakan. Tujuannya sama yaitu menghasilkan para Sarjana (S1), S2, S3. Seringkali kita memilih Universitas dipengaruhi atau dilatarbelakangi gengsi sosial tertentu, padahal kita lupa bahwa hasil keluarannya sama yaitu sama-sama pegang ijasah dan transkrip nilai S1 atau S2 atau S3. Perbedaannya hanya terletak pada biaya pendidikan, ada Perguruan Tinggi 1 SKSnya itu mencapai Rp. 200.000 atau lebih, tetapi ada juga Perguruan Tinggi 1 SKSnya itu Rp. 40.000.

Perguruan Tinggi yang biayanya Rp. 200.000 per sks dan Rp. 40.000 per sks, dimata saya sama saja, karena outputnya juga sama, sama-sama menghasilkan ijasah dan transkrip nilai. Output yang dihasilkan itu merupakan modal untuk bekerja. Jika saya, maka saya memilih Perguruan Tinggi yang biayanya Rp. 40.000, status saya juga sama dengan lulusan Sarjana Rp. 200.000 per SKS, sama-sama Sarjana dan sama-sama mencari pekerjaan.

Selamat memilih dengan bijak untuk menempuh pendidikan lanjutan di Perguruan Tinggi. (drtobondo)

PILKADA (Pemilihan Kepala Daerah) Poso di Mata Saya

Baru kali ini dalam sejarah perpolitikan Pemilihan Kepala Daerah Poso, saya sama sekali harus bersikap bijak untuk menghormati Keempat Pasangan Calon yaitu pasangan Amjad, pasangan Djaru’u, pasangan Wirabumi, pasangan Darmin. Alasannya sederhana karena Amjad, Franny Djaru’u, Wirabumi dan Darmin seluruhnya memiliki hubungan kekerabatan dengan saya. Amjad, Frany Djaru’u, Wirabumi dan Darmin merupakan Paman saya, sementara Max Kaiya adalah ipar dan sepupuh saya. Jadi bisa dibayangkan hal yang dirasakan ini, sudah pasti berlaku dalam masyarakat Poso. Ini disebut sebagai “efek pecahan telur ayam” dari tangan Rombenunu, seorang raja pada masa klasik Poso.
Peristiwa yang dirasakan ini, kemudian mendorong berpikir ke depan bahwa penting bagi masyarakat Poso mendapatkan pendidikan politik. “Jangan karena politik, masyarakat dipecah belah dan dijadikan kuda lumping” ini pesan moral dari Empat Guru Besar, Prof. Amien Rais, Prof. Praktikno, Prof. Robert M. Lawang dan Prof. Liek Wiliardjo. Tentu saya tidak simpati jika masyarakat dipecah belah dan dijadikan kuda lumping. Calon Pemimpin yang bermain dengan cara-cara itu adalah Calon Pemimpin yang tidak memiliki kualitas daya saing yang baik. Parahnya, tanpa disadari masyarakat Poso bahwa “barang dagangan” tersebut hanyalah “barang daur ulang”. Kita harus belajar banyak dan mulai terdorong untuk mengembalikan kehormatan wilayah dan kehormatan masyarakat Poso!
Masyarakat Poso harus sadar dengan apa yang dipilihnya ke depan, bukan karena dorongan emosional tapi diharapkan karena ada dorongan rasional. Masyarakat Poso harus belajar dari masa ke masa, dan saya harus jujur bahwa pemerintah Kabupaten Poso sebelumnya sama sekali tidak menunjukkan hal spektakuler. Justeru sebaliknya, tindak kejahatan korupsi dan tindak kekerasan seksual serta kekerasan dalam rumah tangga meningkat tajam. Ini artinya apa? Ini adalah tanda bahwa masyarakat mengalami tingkat social stress yang tinggi, hidup tanpa harapan dan tanpa jaminan, meningginya tuntutan kebutuhan sementara sumber-sumber produktif tidak mendukung, banyaknya godaan yang datang, penyimpangan dari pertumbuhan penduduk yang tak sebanding, menipisnya kesempatan hidup layak secara sosial dan secara ekonomi, gagalnya program dan kegiatan Keluarga Berencana, tidak bekerjanya sistem kontrol sosial, kegagalan dari pendidikan agama dan kegagalan dari pendidikan keluarga. Saya pikir ini prioritas program kerja Bupati-Wakil Bupati Poso terpilih akan datang. Kalau tidak ada, ya sudah kewajiban sebagai warga Poso maka itu harus dibuat untuk masyarakat. Kita tidak butuh teori tapi aksi konkret! Untuk dapat mencapai hal yang konkret, maka dibutuhkan pemimpin yang memiliki kualitas spiritual, memiliki daya kreatif tinggi, cerdas dan tidak ekslusif juga bermental baja serta rendah hati dan anti korupsi! (drtobondo)

Kamis, 12 November 2015

The Story of Tentena Today (Introduction M. Jusuf Kalla : Vice Presiden Republic Indonesia)

Adriani (+6282136790651)
My publication research is concerned with post conflict Poso in Tentena to describe social harmonization and all dimension. I am very thanks to Mr. M. Jusuf Kalla Vice President Indonesia of Republic, to very concerned the peace development. Mr. M. Jusuf Kalla give book introduction on my publication. This book can ordered in PT. Kanisius publisher or directly to +6282136790651. Next on my blog publication, i will review variety research interest "Tentena Ceritamu Kini (The Story of Tentena Today). 

ABSTRACT
Relationship Pattern of Study in Moeslim Community and Christian Community of Post Conflict Poso in Tentena 


Religion as socio-cultural identity of part society. Every religion teaches to live together in peace and give support humanity of man. The goals of religious man then confronted by socio-cultural plurality in human life, and this case as the root of emergency social tensions to load social conflict like conflict Poso in years 1998. The conflict Poso is only one the longest and worst conflict in Indonesia. However, its not entirely true that conflict Poso led to destruction humanity of human and social relation between Muslim communities and Christian communities. Various research on personal publication research activities “Tentena Ceritamu Kini”, showing different sides and supporting evidence the basis of social relation that can be use to guarantee and strengthen social harmonization post conflict Poso in Tentena.

Rabu, 09 April 2014

QUICK COUNT 9 APRIL 2014: PERMAINAN SEMAKIN MENARIK!



Perhitungan Cepat (Quick Count) sudah selesai, (1). PDI-P 18,80%, (2). Golkar 14,52%, (3). Gerindra 12,27%, (4). Demokrat 9,11%, (5). PKB 8,90%, (6). PAN 7,34% (7). Nasdem 6,92%, (8). PKS 5,90%, (9). PPP 5,41%, (10). Hanura 5,36%, (11). Partai Bulan Bintang 1,54%, (12). PKP 0,94%. 12 Partai yang berkompetisi meraih hati rakyat, tidak ada satu partai yang mencapai 20% atau diatas 20%.

Dilematika 20% President Treshold
Yusril Izha Mahendra, Partai Bulan Bintang menolak Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden karena menganggap bahwa hak konstitusionalnya dilanggar (baca: http://www.tribunnews.com/nasional/2013/12/13/yusril-president-threshold-langgar-hak-konstitusional-saya). Demikian pula Partai-partai Politik besar lainnya, tak terkecuali PDI-P yang menargetkan perolehan suara mencapai 27%, sukar untuk mencalonkan kandidatnya sebagai Calon Presiden mendatang. PDI-P berada diperingkat pertama pemenang versi Quick Count MetroTV bekerjasama dan Indikator Politik Indonesia dengan pencapaian skor perolehan suara 18,80%, disusul Golkar dan Gerindra serta Demokrat.

Dalam tulisan saya sebelumnya, ramalan ini tidak jauh berbeda dari gambaran Quick Count untuk peringkatnya yaitu (1). PDI-P, (2). Golkar, (3). PKB dan (4), Demokrat versi peringkat Quick Count (1). PDI-P, (2). Golkar, (3). Gerindra dan (4). Demokrat. Perbedaannya terletak pada cara penempatan dari aspek yang mendasari pemilihan, (1). Saya memperhadapkan posisi Gerindra dengan Latar Belakang Prabowo yang dinilai melakukan kesalahan di masa lalu, sehubungan dengan penculikan seperti beberapa catatan di media, sehingga posisi Gerindra digantikan oleh PKB dimana aspek pengaruh yang dipikir itu ialah figur seorang Gus Dur yang tentu saja besar pengaruhnya dan nomor urut yang dikaitkan dengan cara lebih mudah memilih dimana seseorang akan mencoblos nomor yang pertama dilihatnya. (2). Peringkat versi Quick Count untuk posisi Gerindra dan PKB versi Quick Count, dilakukan sesuai perolehan suara dari perhitungan di TPS dengan kemungkinan pertambahan angka ialah memungkinkan terjadi pertambahan lagi bilangan pecahannya. Dengan kata lain, masih ada kemungkinan pertambahan suara (real count) untuk setiap Partai Politik meski pun ada pertambahan bilangan pecahan tetapi sukar untuk mencapai 20%.

Mau tak mau, Partai besar sekalipun harus berkoalisi dengan Partai dibawahnya!

Jokowi Effect, Tidak Berlaku
Setelah dikeluarkannya mandat Megawati Ketua Umum PDI-Perjuangan soal pencapresan Jokowi, hampir disetiap hari hal ini mewarnai “halaman depan” pemberitaan nasional. Tak dipungkiri bahwa pemberitaan ini sangat merisaukan banyak Partai. Disisi lain, PDI-P dalam perolehan suara Pemilihan Legislatif, harus menerima kenyataan bahwa suaranya kurang dominan di beberapa titik Pulau Jawa dan demikian di Jakarta. Selain dari adanya pemberian sanksi publik berupa “hukuman politik” sejak Jokowi menerima mandat Megawati, PDI-P kekuatannya dipecahkan oleh lawan politik dengan membangun serta menemukan karakter yang sama bahkan melebihi figur seorang Jokowi. PDI-P juga kurang mendominasi sebagian besar Sulawesi, Papua, sebagian besar Kalimantan dan sebagian besar Sumatera serta Aceh. Bahkan pemikiran saya sebelumnya, Jokowi Effect , mampu menghilangkan Partai Nasdem di politik legislatif 2014, ternyata tidak benar! Justeru partai ini membawa kejutan besar, partai yang baru pertama kalinya ikut pada Pemilihan Legislatif 9 April 2014 tersebut mampu membawa 6,92%. Terlebih lagi Partai Gerindra dengan capaian suara 12,27%, sementara itu masyarakat Indonesia mengetahui hubungan kurang harmonis PDI-P dan Gerindra dimana sebagian besar masyarakat akan beranggapan bahwa Pencapresan Jokowi tentu menguras suara Gerindra sehingga usaha PDI-P dapat memperoleh suara 27% terwujud,  tetapi ini sama sekali tidak terjadi.

Bagaimana permainan akan datang?

Minggu, 06 April 2014

KEMATANGAN DAN KEDEWASAAN BERPOLITIK DIPERLUKAN SEBAGAI REFERENSI UNTUK PEMILIH



9 April 2014 mendatang, semua rakyat akan memilih individu dari suatu partai politik dan seluruhnya tentu saja memiliki sejumlah prestasi dan karya yang baik, sehingga wajar partai politik mencalonkan mereka untuk dipilih masyarakat. Para calon legislatif (kemudian disebut caleg) bertugas antara lain merancang atau menyetujui atau membentuk Undang-undang dan tentu saja bertugas untuk mengawal perjalanan bangsa dari negara kita tercinta, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Antara Kenyataan dan Idealisme Perjuangan: Menuju Bangsa Yang Satu?
Tapi benarkah kita sendiri menjadi satu bangsa? Saya sendiri menganggap itu sukar dilakukan, meski benar beberapa momen bisa menjadikan kita satu tetapi pada momen lain membuat kita dapat dipecahkan menjadi beberapa bagian dari yang terkecil sampai yang terbesar.

“Pemikir handal” tentu menguasai keberagaman kita sendiri, sehingga sang “pemikir” mudah untuk memecahkan itu. Disisi lain demografi politik juga menjadi salah satu penentu kekuatan politik dan ironisnya jika ini dilakukan untuk gerakan demokrasi dengan memperkuat posisi tawar politik maka tentu realitanya adalah menabrak tembok yang besar. Jadi harus ada alternatif dan langkah strategis, setidaknya masih pada jalur dan tujuan yang sama yaitu mengutamakan persatuan serta kesatuan sebagai bangsa yang utuh.

Usaha-usaha yang dilakukan tidak bisa secara frontal, anarkis, dengki, iri dan marah tetapi harus dilakukan dengan terarah, beretika, profesional, jujur dan konsisten. Ini saja yang harus dilakukan. Jika seluruhnya didorong dengan sikap-sikap anarkis, dengki, iri dan marah, maka sudah pasti tidak akan membawa simpati kepada masyarakat. Jadi mengutarakannya juga harus baik dan jangan terkesan seperti ingin mencari tau sesuatu agar bisa memperoleh celah bagi seseorang untuk digunakan menjatuhkan atau melakukan penyerangan tertentu. Hal ini tidak perlu dilakukan. Kalau pun kita memaksa untuk melakukannya, yang jadi pertanyaan ialah apakah benar orang yang diperjuangkan tersebut akan membela atau menolong kita? Jika pun ya, hanya sebagian tokoh saja yang benar-benar membela secara langsung (fisik) atau benar-benar menolong secara langsung (fisik) dengan mengorbankan apa yang ada padanya.

Jika pun masyarakat sudah menemukan tokoh yang membela atau menolong secara langsung, sangat sukar dijamin bahwa ia  akan aman dalam perjalanannya, pasti tokoh tersebut mengalami berbagai rintangan dan godaan, tak terkecuali istilah populer black campaign. Satu-satunya menghindari ya jangan masuk di politik! Saya rasa semua tokoh politik mengalami itu!

Dominasi dan Perebutan Simpati Masyarakat
Persaingan politik tidak lagi dibangun untuk tujuan mensejaterakan tetapi lebih kepada upaya mendominasi dan merebut simpati masyarakat, meski kegiatan politik seperti kampanye benar merupakan usaha dari perebutan simpati masyarakat tetapi bukan berarti menjadikan segala sesuatu sebagai usaha untuk merebut kedudukan atau otoritas kewenangan tertinggi sehingga bisa mempengaruhi kebijakan dan tentu saja akan memperkuat basis kelompoknya. Cara-cara ini hanya akan menghasilkan gerakan balas dendam terhadap rejim ke rejim. Dengan demikian, para pemimpin dari kalangan elit politik mengajarkan kepada masyarakatnya pentingnya balas dendam dan secara tidak langsung mendorong pertumbuhan anarkisme serta kekerasan structural, melembagakan tradisi premanisme dan pemberlakuan prinsip-prinsip pembenaran.
Hemat saya, pilihlah partai politik dan tokoh politik Anda yang benar-benar dewasa serta matang dalam berpolitik dengan tidak lagi menggunakan kekuatan sendiri tetapi mampu memainkan kelemahannya menjadi kekuatannya sendiri serta mampu mengambil sari dari kekuatan lawan tanpa harus merusak lawan tersebut. Makna kematangan dan kedewasaan disini ialah jika seluruh proses sejak awal dan perkembangannya, benar-benar seluruh hal yang dilaluinya (partai atau tokoh politik) secara mandiri. Meski pun disadari bahwa hal yang dilaluinya itu banyak dijumpai kekurangan, tetapi setidaknya dari kekurangan itu ia bisa menyempurnakan. Inilah yang saya maksud sebagai SUARA RAKYAT.